Baubau – Perbedaan Hari Raya Galungan dan Kuningan, Pahami Makna Tradisi Umat Hindu Bali. Bali dikenal bukan hanya karena keindahan alamnya, tetapi juga karena kekayaan spiritual dan budaya yang begitu hidup. Dalam kehidupan masyarakatnya, ritual keagamaan tidak hanya menjadi tradisi turun-temurun, melainkan fondasi penting yang menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Oleh karena itu, tidak mengherankan jika rangkaian hari raya Hindu di Bali selalu dinantikan. Di antara perayaan-perayaan tersebut, hari raya Galungan dan Kuningan menjadi momen sakral yang melambangkan kemenangan kebaikan dan permohonan keselamatan. Kedua hari raya ini dirayakan setiap 210 hari menurut kalender Pawukon, dan menjadi bagian dari rangkaian yadnya yang menghubungkan manusia dengan leluhur serta Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Sebagai salah satu hari suci terbesar, antusiasme umat Hindu dalam menyambut Galungan dan Kuningan terasa jauh sebelum hari puncak perayaan tiba. Persiapan upacara, pemasangan penjor, hingga doa bersama di pura memperlihatkan betapa mendalamnya makna spiritual yang terkandung dalam dua hari raya ini. Berikut ulasan Liputan6.com tentang perbedaan hari raya Galungan dan Kuningan, Kamis (20/11/2025)Makna Hari Raya Galungan dan Kuningan.
Makna Hari Raya Galungan
Menurut Ditjen Bimas Hindu Kementerian Agama RI melalui laman bimashindu.kemenag.go.id, Hari Raya Galungan adalah peringatan atas kemenangan Dharma (kebaikan) melawan Adharma (kejahatan). Secara etimologi, kata “Galungan” berarti “bertemu” atau “bersatu”, yang melambangkan bersatunya kekuatan rohani dalam diri manusia.
Umat Hindu percaya bahwa pada hari Galungan, leluhur turun ke dunia untuk memberikan berkat dan perlindungan. Sehari sebelumnya, yakni Penampahan Galungan, menjadi momen pembersihan diri melalui penyembelihan hewan sebagai simbol pengendalian sifat buruk.
Pada tahun 2025, Galungan dirayakan dua kali:
Rabu, 23 April 2025
Rabu, 19 November 2025
Makna Hari Raya Kuningan
Masih dari laman Bimas Hindu, Hari Raya Kuningan diperingati sepuluh hari setelah Galungan dan melambangkan kemuliaan, kesejahteraan, serta rasa syukur. Kata “Kuningan” dikaitkan dengan warna “kuning” yang melambangkan kesucian dan kebijaksanaan. Pada hari ini, umat memohon keselamatan dan kemakmuran kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan para dewa.
Berbeda dengan Galungan yang berlangsung sepanjang hari, upacara Kuningan hanya dilakukan hingga pukul 12.00 siang, karena dipercaya para Dewa dan Pitara hanya berada di bumi hingga tajeg surya.
Baca Juga : Pahlawan bagi Petani, Polisi di Baubau Menciptakan Kincir Air Penyiraman Tanaman

Pada 2025, Hari Raya Kuningan jatuh pada:
Sabtu, 3 Mei 2025
Sabtu, 29 November 2025Perbedaan Hari Raya Galungan dan Kuningan
Mengacu pada buku “Berbagai Macam Upacara Adat di Indonesia Penuh Makna Kehidupan” (2023) karya Husni Abdullah Mubarak:
Galungan memperingati terciptanya jagat raya dan kemenangan Dharma.
Kuningan memperingati turunnya Sang Hyang Widhi beserta para Dewa ke dunia.
Sementara menurut buku “Mengenal Agama Manusia” (2021) karya Jonar Situmorang:
Galungan selalu jatuh pada Buda Kliwon (Rabu Kliwon).
Kuningan selalu jatuh pada Saniscara Kliwon (Sabtu Kliwon).
Adapun ritualnya:
Galungan ditandai dengan pemasangan penjor, sesajen, dan persembahyangan di pura.
Kuningan ditandai dengan persembahan khusus bagi para Dewa dan leluhur, dilakukan hanya sampai tengah hari.
Kedua hari raya ini juga ditetapkan sebagai hari libur dispensasi berdasarkan Surat Edaran Gubernur Bali No. 16 Tahun 2024, untuk memberi kesempatan umat Hindu menjalankan ibadahnya.
Rangkaian Ritual Galungan dan Kuningan 2025
Rangkaian hari raya Galungan dan Kuningan sangat panjang dan penuh simbol. Berdasarkan panduan Bimas Hindu Kemenag dan kalender suci dari Pemerintah Provinsi Bali, beberapa rangkaiannya antara lain: Galungan
Sugihan Jawa & Sugihan Bali: Ritual pembersihan alam semesta (Bhuana Agung) dan pembersihan diri (Bhuana Alit).
Penyekeban: Momen pengendalian diri agar tidak terpengaruh energi negatif atau bhuta kala.
Penyajaan: Masyarakat bersikap lebih waspada dan banyak berdoa.
Penampahan Galungan: Dilakukan sehari sebelum Galungan, sebagai simbol pengendalian sifat buruk.
Hari Raya Galungan: Puncak perayaan suci atas kemenangan Dharma.
Umanis Galungan: Hari untuk saling berkunjung dan mempererat hubungan keluarga.
Menjelang Kuningan
Pemaridan Guru: Hari kembalinya para Dewa ke Sunyaloka sebelum menyambut Kuningan.
Penampahan Kuningan: Momen persiapan sesajen Kuningan.
Hari Raya Kuningan: Upacara dilangsungkan hanya hingga tajeg surya sebagai penghormatan kepada para Dewa.





